Rabu, 28 Agustus 2019

Cerita di Peraduan Kereta

Selamat malam, teman-teman.
Lama tak bersua. Malam ini aku duduk di pojok stasiun Lamongan bersama Bapak. Hari ini aku akan kembali ke ibukota -yang masih di Jakarta- untuk menuntut ilmu setelah tiga bulan lebih tinggal di rumah, menghabiskan masa libur panjang yang tiga hari lagi usai.

Tapi kali ini aku sedang tidak ingin bercerita tentang kuliah, melainkan apa yang kulihat dan alami di stasiun saat ini. Jam di ponsel menunjukkan pukul 20.46 WIB. Kurang dari satu jam lagi kereta Kertajaya akan datang ke stasiun ini, menaikkan dan mengangkut orang-orang beserta barang-barang yang mereka bawa. Termasuk aku. Tempat duduk di sini terbatas. Banyak orang yang tidak mendapat kursi pun duduk di lantai. Terlihat beberapa mobil dan motor masuk bergantian melalui gapura depan dan menurunkan penumpangnya yang akan naik kereta, juga para pengantarnya. Aku pun tak tahu, orang-orang yang duduk di kursi ini memang orang yang bertiket atau pengantar saja. Entahlah. Toh nanti hanya yang bertiket saja yang bisa masuk dan duduk di dalam kereta.

Ekspresi dan topik pembicaraan orang-orang di sini pun berbeda-beda. Ada yang senang, sedih, juga biasa saja. Ada yang membicarakan bahwa dia seharian belum makan, ada anak yang sudah mencetak beberapa boarding pass kemudian menatanya dan mengatakan kepada ibunya, "Mah, ini yang depan kertasnya paling panjang", kemudian dijawab ibunya, "Iya, gapapa", sungguh percakapan yang lucu bagiku, kemudian bapakku juga ditanya seseorang, "Mau naik kereta, Pak?" Yang kemudian dijawab dengan "Nggak, nganter aja Mas". Begitulah cerita di sini malam ini.
Sudah dulu. Dilanjut nanti.
Selamat malam..